Wajah Indonesia Sekarang



https://belanegarari.com/2015/12/01/makna-penting-dari-semboyan-bhinneka-tunggal-ika/

Orang bersih dan jujur selalu kalah dengan orang yang licik dan cerdik. Itu hanya terjadi di Indonesia. Keputusan majelis hakim di persidangan tidak lagi berdasarkan fakta dan pengakuan para saksi tetapi berdasarkan desakan massa yang demo sampai berjilid-jilid. Hal itu juga hanya terjadi di Indonesia. Hanya uang, kekuasaan, dan keyakinan agama bisa dipertaruhkan demi kebenaran segelitir atau sekelompok orang. Itu pun juga hanya terjadi di Indonesia.
Ada apa lagi dengan Indonesia kali ini? Belumlah rampung kasus-kasus SARA di daerah-daerah, sekarang kasus sara pun sudah merambah di tanah para petinggi negara, politik. SARA digunakan untuk memenangkan politik suatu golongan. Dengan mengangkat isu soal SARA dan membentuk dogma pada masyarakat, suatu golongan tertentu mudah menguasai pemerintahan. Betapa hebatnya dampak komunikasi persuasif yang terjadi di masyarakat Indonesia.
Hanya karena minoritas, bukan berarti mereka harus dipersalahkan, bukan berarti mereka harus mengalah demi kepentingan sebagian mayoritas. Minoritas dan mayoritas haruslah menghormati dan menghargai satu sama lain berdasar ketulusan dan cinta kasih. Dan tentu saja menggunakan hati nurani. Hidup di negara Bhineka Tunggal Ika haruslah memahami betul apa makna kebhinekaan itu sendiri. Adalah aneh bila negara kita punya semboyan Bhineka Tunggal Ika tetapi masyarakatnya masih saja meributkan soal SARA.
Indonesia –sebagian dari masyarakatnya- menurut saya saat ini masih dangkal dalam memahami soal isu yang berkaitan dengan SARA. Dibakar sedikit dengan kalimat persuasif yang belum tentu kebenarannya saja sudah langsung meledak. Lebih mengedepankan emosi daripada solusi. Lebih mengedepankan kebencian daripada kebajikan. Saking mengakarnya kebencian, permintaan maaf pun tidak akan pernah terdengar di telinga. Lalu hukum pun ikut-ikutan buta dan tuli.
Malu saya mengakui bahwa inilah keadaan Indonesia sekarang. Sedikit-sedikit menyalahkan dan nyinyir terhadap gaya pemimpin negara. Apalagi jika ada pemimpin dari kaum minoritas. Bukan salah pemimpinnya, sama sekali bukan. Hanya saja sebagian masyarakat tidak lagi satu pemikiran dengan tujuan serta visi misi negara. Tidak lagi bisa diajak membangun negara. Tidak lagi mengakui bahwa Bung Karno dulu dengan kesungguhan hati menciptakan sebuah landasan bagi semua masyarakat Indonesia agar hidup rukun dan damai dengan kebhinekaannya. Mereka melupakan sejarah bahwa kakek dan nenek moyang mereka dulunya adalah seorang pejuang yang ikut memperjuangkan tanah Indonesia. Mereka lupa bahwa negeri ini ada karena perjuangan moyang kita. Perjuangan yang tidak mempermasalahkan suku dan agama. Semua bertujuan sama. Membangun Indonesia.

Mari kita tinggalkan sejenak kesukuan dan agama kita masing-masing. Berjalanlah menuju satu tujuan yang sama yaitu menjadikan Indonesia negara yang maju dan berbudaya. Semoga kejadian-kejadian yang kemarin adalah yang terakhir, setelah itu tak ada lagi perpecahan. Amiin.

Komentar

Postingan Populer