Calistung Penting tapi Fondasi Belajar Lebih Penting!
Lima tahun delapan bulan. Kami belum serius mengajarkannya baca dan tulis. Hanya pengenalan dasar. Namun, kami tidak pernah absen membacakannya cerita sebelum tidur, tak pernah absen hadir saat dia benar benar ingin belajar baca dan tulis, dan selalu membelikannya buku buku cerita baru ketika kami berkunjung ke pameran buku. Saat ini bukunya menumpuk banyak di kamarnya. Belum sempat kami membelikannya rak buku.
Mengapa kami tidak memaksanya untuk belajar membaca dan menulis atau memasukkannya les calistung seperti teman temannya? Pertimbangan pertama, kami sudah menawarkannya untuk les calistung di sebuah Lembaga, beberapa temannya juga les di situ, tetapi dia menjawab tidak mau les. Pertimbangan kedua, kami berniat untuk membereskan atau menuntaskan perkembangan sensori, motorik, dan sosialnya. Kami ingin dia eksplorasi lingkungannya, eksplorasi hal hal yang mungkin akan jarang dia lakukan ketika sudah memasuki sekolah dasar, mengajaknya memahami bagaimana dunia bekerja. Pertimbangan ketiga, kami membaca berbagai penelitian bahwa anak usia empat sampai lima tahun, otak anak belum siap untuk menerima pembelajaran akademis.
Kami berpatokan pada konsep pyramid of learning atau piramida belajar yang dicetuskan oleh Williams dan Shellenberger. Dalam piramida belajar tersebut kemampuan kognitif, akademik baca, tulis, hitung, dan kemandirian anak itu terletak pada pucuk piramida. Artinya, kemampuan ini adalah kemampuan terakhir yang harus dikuasai anak. Usia yang pas untuk berada di puncak piramida adalah usia enam tahun.

https://www.threads.com/@tumbuh_bareng_anak/
Untuk bisa menuju puncak, kami harus memperkuat pondasi yang ada di bawahnya, yaitu visual, auditori atau pendengaran, taktil atau peraba, olfaktori atau penciuman, gustatory atau pengecapan, vestibular atau keseimbangan, dan proprioseptif atau persendian dan otot. Kami sedang menguatkan keseimbangannya. Alhamdulillah, kemarin Diptyan sudah bisa mengendarai sepeda roda dua setelah sebelumnya selalu dibantu dengan roda bantu. Saat ini dia sedang senang senangnya bersepeda. Selain menuntaskan poin keseimbangan, dia juga sedang menguatkan otot otonya.
Kembali ke calistung. Kami meyakini bahwa belajar membaca dan berhitung, bukanlah sekadar membaca rangkaian huruf dan menghitung angka angka, tetapi bagaimana hasil dari rangkaian huruf dan angka tersebut membentuk sebuah makna. Pada akhirnya akan terbentuk sebuah pemahaman di dalam otak anak. Jadi, menurut kami, calistung ini sangat kompleks, tak bisa sembarangan menjejalkan calistung jika fondasinya belum matang. Itulah mengapa kami juga berencana mendaftarkannya SD di usia tujuh tahun lebih empat bulan. Kami ingin membentuknya menjadi seseorang yang mencintai buku, mencintai ilmu pengetahuan, dan mencintai belajar.
Kami juga masih belajar dalam hal ini karena hal ini merupakan pengalaman pertama bagi bagi kami. Mungkin saat dia usianya enam tahun, kami akan bertahap dan konsisten untuk mengajarkannya calistung. Tak usah bimbel ya, Nak, bapak ibumu masih mampu mengajarimu calistung. Bismillah..

Komentar
Posting Komentar