Jangan Langsung Cekoki Anak dengan Lagu Viral!
Semakin anak bertambah usia, kami sebagai orang tua semakin khawatir. Bukan khawatir dengan perkembangan tumbuh kembangnya tetapi khawatir dengan paparan apa yang dia tonton dan apa yang dia dengar. Kalau masalah tontonan, kami masih bisa membatasinya selama dia menonton di rumah. Youtube Kids yang tersambung dengan fitur parental control, sungguh memudahkan kami mengontrol tontonan. Namun, mengontrol apa yang dia dengar, masih sulit bagi kami. Apalagi dia sudah mandiri bermain dengan teman temannya di lingkungan rumah. Terkadang dia pulang ke rumah membawa kosakata baru, nyanyian baru, atau gerakan baru yang membuat kami harus berpura pura setenang mungkin merespons jika yang dia bawa bertentangan dengan nilai nilai keluarga kami.
Ketika dia membawa nyanyian baru, dan dia meminta kami untuk mencarikan lagu tersebut, tentu saja kami tak langsung menurutinya. Kami harus tahu dulu lirik dari lagu tersebut. Jika dirasa aman bagi dia, kami akan menurutinya. Tentu saja sebelumnya kami memberi tahu apa makna dari lagu tersebut. Contohnya ketika dia meminta lagu "Kicau Mania", sebelumnya kami sudah mendengar dan memahami liriknya. Ketika memutar lagu tersebut, kami menjelaskan makna dan arti liriknya karena liriknya berbahasa Jawa. Namun, ada beberapa lagu yang memang tidak kami izinkan untuk didengarkan karena kami merasa liriknya terlalu dewasa, biasanya lagu itu viral karena tiktok. Pernah beberapa kali dia memaksa, di saat seperti itu, kami harus tahan, kami harus konsisten. Susah. Banget.
Bayangkan dia merengek, menangis, bahkan marah karena keinginannya tidak terpenuhi ketika kita dalam kondisi capek dan banyak pikiran. Tapi kami harus tetap konsisten memegang kesepakatan yang sudah disetujui sebelumnya. Btw, ini beneran kejadian kemarin siang saat bapaknya sudah berangkat kerja. Dia meminta muterin lagu, “pesawat turun ke padang”. Sebelumnya, aku memang sudah berniat untuk mencari lagu ini tapi belum sempat. Ya, karena aku belum tahu itu lagu seperti apa musiknya, liriknya, jadi aku tidak membolehkannya memutar lagu itu. Dia nangis, marah, tapi aku diam, duduk di sebelah dia, nungguin tangis dan marahnya reda. Setelah mereda, pelan pelan kujelaskan. Alhamdulillah dia paham.
Bergegas kucari tahu lagu tersebut ketika dia tidur siang. Ternyata lagu tersebut merupakan cover lagu Malaysia yang berjudul Idol Idol yang rilis tahun 2008, dan lagu itu tidak ada lirik “helikopter turun ke padang”. Lagu Malaysia tersebut viral setelah dinyanyikan penyanyi Indonesia, Ajeng Febria. Liriknya berisi kekaguman terhadap seorang perempuan yang memiliki wajah cantik, pandai menari. Tapi ada bagian lirik “kecil kecil pandai bertunang” yang artinya anak zaman sekarnag masih kecil tapi sudah mengenal percintaan dan pertunangan. Menurutku, benar benar tidak ramah untuk telinga anak.
“Ah, tapi kan anak kecil belum paham lirik lagu, mereka suka karena musiknya yang asyik buat berjoget,”
Mungkin sebagian orang berkomentar seperti itu, tapi bagiku, lagu itu ya sepaket, ya lirik, ya musiknya. Gak bisa dengerin lagu kok gak tahu liriknya. Penyanyi atau penulis lagu, menulis lirik lirik lagu untuk menyampaikan keresahan dan kegelisahannya. Hal itu tidak bisa kita abaikan. Kami mengajari anak kami tak sekadar happy goyang goyang dengar musik, tapi kami juga mengajari makna yang tersirat dalam lagu tersebut.
Terus pasti ada komentar lanjutan, “Ah, dia kan masih kecil, gak pahamlah kalau dijelasin.” Hai, justru karena masih kecil, ngajarinnya gampang. Gunakan bahasa yang sederhana sesuai dengan kemampuan pikirnya. Anak yang terbiasa diajak diskusi tentang bermacam macam topik, pasti akan lebih mudah menerima masukan dan aturan.
Melepas anak di dunia yang makin tidak ramah anak, memang menantang. Sebagai orang tua juga harus berani berkembang dan belajar. Siapa lagi kalau bukan kita, orang tua yang akan menjadi pelindung utama anak ketika dia sedang tertatih tatih mengenal kebrutalan dunia.
Seperti
prinsip pengasuhan di Keluarga Kita, asuhlah anak anak kita dengan C.I.N.T.A.
• C – Cari Cara (Konsisten dan Jangka Panjang): Pengasuhan adalah sebuah
perjalanan panjang. Orang tua perlu terus mencari cara yang konsisten dan
sesuai dengan tahapan perkembangan anak, karena jalan pintas atau hukuman
instan tidak efektif dalam jangka panjang.
• I – Ingat Impian Tinggi: Orang tua diajak untuk selalu mengingat harapan positif dan potensi terbaik yang dimiliki oleh anak, serta percaya pada kemampuan anak sebelum anak membuktikannya sendiri.
• N – Nerima Tanpa Drama: Menghadapi tantangan atau emosi anak dengan kepala dingin tanpa memperbesar masalah (drama), serta mampu memahami kebutuhan di balik perilaku anak.
• T – Tidak takut salah: Kita sebagai orang tua tidak takut mengakui kesalahan jika kita memang salah.
•
A – Asyik main bersama: Bermain bersama anak dapat menumbuhkan ikatan dan
keharmonisan antar anak dan orang tua. (sumber: Instagram Rangkul Keluarga
Kita)

Komentar
Posting Komentar